About Me

Palembang- Baturaja, Indonsia, Indonesia
aq harus bisa berubah lebih baik n makin dewasa sebab ada pepatah yang mengatakan hari ini harus lebih baik dari kemarin begitu juga besok harus lebih baik darisekarang agar kamu tidak menjadi orang yang merugi, n juga aq tak pernah putus asa dalam menggapai cita2 ku, pokok nye pantang mundur deh maju terus, ok coy,,,,,,,, hai semuanya mari kita budayakan e-learning
copyright :yusufinside@gmail.com

Kalender


Portalnya Keluarga Bahagia
RSS

Presiden Muda Indonesia Anno 2009

Tidak ada yang salah jika seorang anak muda ingin memimpin negerinya: menjadi presiden, misalnya. Menjadi masalah jika keinginan ini diubah menjadi tuntutan, apalagi dengan argumen sekadar karena ia muda--di bawah usia 50 tahun, misalnya. Ide dan gerakan politik ini bisa menyesatkan, seperti sesatnya argumen tindakan afirmatif (affirmative action) buat memberi jatah 30 persen perempuan di parlemen.

Tidak ada korelasi, apalagi kausalitas sifatnya, antara usia muda dan kapabalitas serta kapasitas memimpin--seperti tidak ada hubungan sebab-akibat antara bertambahnya jumlah anggota parlemen perempuan akan melahirkan produk legislasi lebih baik. Terlalu banyak bukti empirik yang bisa dijadikan penyangkal argumen yang fisikal ini, karena itu sulit diterima baik secara intelektual maupun moral.

Sebagai bangsa kita memang patut kecewa. Dibanding negara tetangga yang juga mengalami krisis ekonomi sepuluh tahun lalu, kita adalah bangsa yang paling lambat pulihnya. Faktor kepemimpinan adalah salah satu sebab yang sering disebutkan. B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono dinilai gagal karena tidak punya ide segar dan visi jauh ke depan serta watak yang kokoh.

Anak-anak muda, seperti Rizal Mallarangeng, M. Fadjroel Rachman, Ratna Sarumpaet, Yusril Ihza Mahendra, Tifatul Sembiring, dan lainnya merasa saatnya generasi mereka memimpin negeri. Generasi sebelum mereka, yang sudah terbukti gagal, hendaklah tahu diri dengan misalnya tidak lagi mencalonkan diri pada pemilihan presiden tahun depan.

Yusril, misalnya, merasa perlu maju mencalonkan diri jadi presiden karena pengalamannya sekian tahun di kabinet, terutama di kabinet Yudhoyono, membuka matanya betapa lamban dan tidak kapabelnya sang presiden. "Lebih baik saya yang menjadi presidennya," begitu kata Yusril.

Fadjroel sudah siap dengan sejumlah langkah yang menurut dia penting dan strategis dilakukan, misalnya, menasionalisasi perusahaan asing, menerapkan pajak progresif setinggi mungkin, menuntaskan kasus korupsi mantan Presiden Soeharto, dan mengadili para jenderal yang terlibat pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap kemanusiaan di masa lalu.

Rizal Mallarangeng? Kita belum pernah mendengar setegas yang ditawarkan Fadjroel dari Rizal. Ia lebih mirip Yusril, hanya mengemukakan impuls dan motif. Kalau Yusril jengkel melihat presiden yang dibantunya lamban, makal Rizal kecewa karena sepertinya tidak ada harapan buat masa depan Indonesia yang lebih baik jika masih dipimpin oleh kaum tua. Ratna Sarumpaet? Setali tiga uang, kita pun belum mendengar apa yang akan ia lakukan jika kelak menjadi presiden.

Maka, kita hanya bisa mengira-ngira. Kalau Fadjroel menjadi presiden, maka sistem pengorganisasian dan pengelolaan ekonomi kita akan berubah. Sistem neo-liberalisme yang kini berjaya akan berganti dengan sistem ekonomi sosialisme-demokrasi. Kalau Rizal menjadi presiden, tidak akan ada perubahan sistem ekonomi dan bahkan akan diperdalam dan diperkuat. Ini terbukti dari betapa antusiasnya Rizal membela kebijakan neo-liberal, misalnya mencabut subsidi dan menggadaikan kekayaan negara pada asing (kasus ExxonMobil di Blok Cepu).

Kalau Yusril menjadi presiden, maka kaum fundamentalis dan radikal Islam akan berjaya. Akan banyak lahir kebijakan dan legislasi yang bersumber dari nilai-nilai dan ajaran Islam. Kaum non-Islam tetap dihormati dan dijaga hak-haknya sejauh tidak menyimpang dari ajaran Islam. Kalau Ratna Sarumpaet menjadi presiden, karena ia pernah begitu getol dan peduli berkampanye untuk menggungkap kasus pembunuhan buruh Marsinah dengan Teater Satu Merah Panggung-nya, maka sistem ekonomi kita bisa mirip seperti apa yang hendak diperjuangkan Fadjroel.

Sekarang terserah Anda, mau pilih mana: yang muda apa yang tua? Ini kalau Anda percaya, bahwa dalam sistem kita bernegara, seorang presiden punya kuasa luar biasa sehingga bisa mengubah sistem hidup kita. Tapi kalau Anda percaya bahwa perubahan bukan di tangan presiden seorang, tapi menyebar di tangan banyak orang (ratusan anggota DPR), muda atau tua sebenarnya tidak relevan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments: